T O P

.

.
Tampilkan postingan dengan label photografhy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label photografhy. Tampilkan semua postingan

foto Julia Perez dulu dan sekarang




Gadis yang dulunya biasa saja sekarang menjelma jadi cewek terseksi.






sekarang












Read More »
Jumat, November 30, 2012 | 0 komentar

Cara Mendapatkan Hasil Foto Terbaik Dari Smartphone


Lebih baik membeli smartphone dibanding kamera konvensional. Ya, pendapat ini berlaku bagi segelintir orang. Memang tidak sepenuhnya salah melihat tren perkembangan smartphone belakangan ini fitur kamera mendapat porsi lebih banyak. Ditambah lagi suguhan berbagai fitur lain dan harganya yang tidak berbeda jauh dari kamera konvensional.
Tak bisa dipungkiri masih ada beberapa batasan kemampuan kamera smartphone yang sepertinya belum mampu menyetarakannya dengan kamera pada umumnya, baik pocket maupun SLR. Namun kita masih bisa menyiasatinya, nah berikut ini kita akan bahas bersama beberapa cara mudah mengoptimalkan hasil foto dari kamera smartphone.
1. Peganglah smartphone layaknya kamera
Smartphone tentu saja lebih ringan dari kamera biasa, tapi kelebihannya malah menjadi kelemahan. Salah satu alasan kamera profesional dapat mengambil foto lebih bagus dan gambar yang tajam adalah pada beratnya itu sendiri yang berfungsi sebagai stabilisator. Tangan kita secara otomatis akan menahannya dengan kuat. Jadi coba peganglah smartphone seperti kamera sebelum mengambil gambar, seperti jangan terlalu meregangkan lengan agar tangan lebih steady.
2. Jangan malu banyak bergerak tuk dapatkan zooming bagus
Cara Mendapatkan Foto Terbaik Dari Kamera Smartphone 02 298x199 Cara Mendapatkan Hasil Foto Terbaik Dari Smartphone
Banyak smartphone berkamera memiliki fitur digital zoom. Sayangnya masih sangat sulit menemukan smartphone dengan kemampuan zooming yang baik, berakibat menurunnya kualitas gambar. Jadi jangan terlalu mengandalkan fitur zoom bawaan, tapi cobalah berjalan mendekati objek foto kamu. Tak perlu malu terus bergerak maju dan mundur berkali-kali sampai mendapatkan zooming yang tepat.
3. Berhati-hatilah dengan shutter lag
Selalu ada jarak waktu signifikan antara saat menekan tombol sampai smartphone mulai mengambil gambar, lag bisa berlangsung hanya satu detik atau lebih. Pastikan untuk memegangnya dengan mantap sampai melihat gambar akhir di layar, bergoyang sedikit saja mengakibatkan gambar menjadi blur. Dari pada memaksa tangan melakukan yoga, cobalah untuk menggunakan fitur timer. Dengan cara ini kita memiliki waktu untuk memastikan ponsel dipegang dengan benar.
4. Bertemanlah dengan cahaya
Fotografi yang baik memerlukan cahaya yang baik pula, tetapi jika terlalu banyak juga bisa mengakibatkan terjadi sebaliknya. Yang paling penting adalah sebisa mungkin hindari cahaya menyilaukan atau kontak langsung di tengah hari karena nantinya akan muncul bayangan kasar di hasil gambarnya.
5. Flash!!!
Meski ukurannya kecil, flash pada smartphone bisa begitu kuat hanya pada satu titik yang kadang dapat mempengaruhi hasil gambar. Untuk meminimalisirnya kita bisa gunakan diffuser, berfungsi sebagai penyebar cahaya ke area lebih besar menghindari pantulan dari kilatan flash. Atau kita juga dapat menggunakannya menangani kondisi sulit, seperti saat memotret objek yang tampak gelap bagian depan karena backlight.
Cara Mendapatkan Foto Terbaik Dari Kamera Smartphone 03 298x210 Cara Mendapatkan Hasil Foto Terbaik Dari Smartphone
6. Optimalkan layar Smartphone
Cobalah untuk menggunakan modus full frame pada layar smartphone sebelum mengambil sebuah gambar. Ini merupakan cara yang sederhana untuk melatih mata kita menemukan banyak aspek pendukung maupun pengganggu pada setiap foto lebih besar dibanding modus frame kecil.
7. Coba posisi berbeda
Kamasutra fotografi, mendapatkan kepuasan maksimal dalam posisi berbeda. Tentu bukan kita yang harus jungkir balik saat mengambil gambar. Desainnya  lebih ergonomis membuat kita dapat mengambil gambar dari beberapa sudut dan banyak posisi, lebih bebas mengeksploitasi sudut menarik atau titik pandang sesuatu yang kadang tidak bisa dilakukan pada kamera konvensional. Jangan takut untuk mencoba berbagai sudut elevasi untuk menangkap gambar yang unik.
8. Gunakan aplikasi fotografi yang ada
Tentunya kita sudah tidak asing dengan aplikasi fotografi yang terdapat pada smartphone baik itu perangkat iOS maupun Android, seperti Instagram atau 360Camera dan lain sebagainya. Gunakanlah itu karena tidak ada yang melarangnya. Setidaknya dengan berbagai efek fotografi yang disediakannya kita bisa menutupi hasil buruk atau lebih mempercantik foto terbaik.
9. Ambil gambar lagi dan lagi
Aspek kunci bagaimana kita bisa menjadi fotografer yang lebih baik adalah dengan terus berlatih, berlatih, dan berlatih. Ambilah banyak gambar, selain untuk berlatih, kita juga dapat meningkatkan peluang mendapatkan satu atau dua atau lebih foto dengan hasil fantastis. Kecuali jika memory terbatas. Namun sebagai pengguna smartphone atau kamera konvensional sekalipun, satu hal pasti dilakukan adalah memilih hasil foto terbaik dari setiap gambar yang diambil dan menghapus yang buruk.

Read More »
Kamis, November 29, 2012 | 0 komentar

9 Kebohongan Toko Kamera

Fotografi adalah salah satu bidang seni yang paling banyak dipenuhi mitos dan “fakta” yang tidak pernah terbukti kebenarannya. Biasanya Anda mendengar mitos ini saat berada di toko kamera, meskipun hal ini tidak selalu salah penjual di toko. Seringkali mitos ini berawal dari produsen kamera untuk mendukung promosi tipe kamera baru yang akan dipasarkan, dan berangsur-angsur beberapa mitos berubah menjadi kebohongan.
Kebohongan ini bukan berarti penipuan. Kebanyakan memang bermula dari fakta, tetapi kemudian dibesar-besarkan atau ditutup-tutupi sebagian sehingga memberi dampak yang lebih kuat. Dalam artikel ini Anda dapat membaca 9 hal yang paling sering terdengar saat kita berkunjung ke toko kamera, dan alasan mengapa Anda perlu lebih skeptis mengenainya.

1. Megapixel = Kualitas


Ya, mari memulai dengan kebohongan yang paling populer, yaitu bahwa megapixel lebih tinggi, lebih baik. Megapixel adalah satuan resolusi sensor, dan memang nilai ini merupakan hal pertama yang disebut pada setiap spesifikasi kamera. Pada suatu masa, memang produsen saling mengadu nilai megapixel tertinggi. Namun, jika ada yang mengatakan, “Kamera ini lebih baik karena memiliki 14 megapixel, kamera itu hanya 12 megapixel” maka Anda perlu waspada.
Sebenarnya tidak salah jika dibilang megapixel memengaruhi kualitas, tetapi harus dalam skala besar. Megapixel mencakup luas sensor. Karena itu, untuk mendapatkan detail yang 2x lebih baik secara teori Anda membutuhkan nilai megapixel yang 4x lebih besar. Misal sebelumnya 10 megapixel, Anda membutuhkan 40 megapixel. Ini berlaku untuk kamera dengan tipe yang sekelas.
Jadi, apa memang Anda membutuhkan extra 2 megapixel pada foto Anda? Kemungkinan besar jawabannya “Tidak”. Kamera saku terkini rata-rata memiliki 12 megapixel, sementara DSLR memiliki 15 megapixel. Kedua nilai ini sudah sangat tinggi dan extra 2 megapixel tidak akan memberikan perbedaan yang signifikan.

2. ISO 5000! ISO 10000!


Setelah melewati fasa “Perang Megapixel”, produsen kamera kini memasuki fasa “Perang ISO”. Ya, ISO, yang merupakan satuan sensitivitas kamera, didorong sampai batas-batas tidak masuk akal. Salvo pertama dimulai oleh Nikon dengan D3S yang dapat memotret sampai ISO 102.400, sekitar 32x lipat lebih tinggi dari kamera normal. Semakin ke sini, semakin banyak kamera saku yang menjanjikan pemotretan sampai ISO 3200 atau ISO 6400.
Kami tidak mengatakan bahwa ISO tinggi itu buruk. Pada saat gempa di Padang 2009 lalu, semua listrik mati sehingga banyak jurnalis yang merasakan manfaat ISO tinggi saat dokumentasi seperti pada foto ini. Tetapi, yang mereka gunakan adalah kamera puluhan juta rupiah. Pada kamera saku dengan harga 3 juta rupiah, kemungkinan besar kamera hanya dapat memotret secara efektif sampai ISO800. Memang Anda dapat mengubah ke angka yang lebih tinggi, tetapi bukan berarti kamera akan memberikan hasil bagus.

3. Anda butuh lensa telephoto


Setelah membeli DSLR Anda, seorang petugas toko yang baik akan menawarkan tambahan lensa telephoto. “Baik” dalam arti baik dalam menjual, bukan berarti baik ke pelanggan. Jika Anda termakan bujukan ini, kemungkinan besar Anda akan menukar lensa tersebut dalam beberapa bulan dengan lensa yang lebih mahal lagi.
Lensa telephoto memungkinkan Anda memotret objek-objek jauh dengan detail. Namun, jika Anda salah memilih lensa, efektivitas lensa tele menjadi terbatas. Sebuah survei mengatakan bahwa 90% penggunaan kamera dilakukan dalam ruangan atau saat malam hari, yang berarti kondisi pencahayaan tidak ideal. Jika anda memilih lensa telephoto yang terjangkau, kisaran 2-3 juta rupiah, maka lensa itu biasanya tidak dirancang untuk penggunaan dengan cahaya kurang. Dalam kondisi pencahayaan tidak ideal, lensa tele terjangkau biasanya memberi respon lambat atau gambar yang blur. Jika ingin telephoto yang yang baik, bersiaplah mengeluarkan uang 2-4 kali lipat nilai tersebut. Dengan dana sekian besar, Anda bisa mendapatkan lensa tele dengan aperture besar dan Anti Shake (peredam getar). Jadi, sudah cukup dong? Tidak juga, Anda perlu mengingat mitos berikutnya…

4. Dengan Anti Shake pasti tajam


Image Stabilizer, Vibration Reduction, SteadyShot. Itu adalah julukan sebagian produsen untuk sebuah sistem serupa: peredam getar. Peredam getar meredam goncangan tangan Anda sehingga memberikan hasil tajam. Feature ini dapat dibilang wajib dimiliki jika Anda ingin menggunakan lensa tele karena saat menggunakan lensa tersebut setiap gerakan kecil berpengaruh berkali lipat. Dan semua sistem peredam getar produsen kamera dapat bekerja dengan baik.
Namun, Anda perlu ingat bahwa sistem tersebut tidak meredam gerakan subjek sehingga sebaik-baiknya teknologi yang ada pada kamera, Anda masih perlu belajar bagaimana memaksimalkannya. Dengan membeli lensa atau bodi yang lebih mahal, bukan berarti foto Anda tidak akan gagal.

5. “Ini lensa Jerman”


Carl-Zeiss, Leica, Schneider-Kreuznach. Ini adalah beberapa merek Jerman yang sukses merambah ke era digital. Banyak merek Jerman menikmati posisi sebagai merek premium saat fotografi film (analog), tetapi gagal bersaing dengan perkembangan teknologi Jepang di era digital. Lalu, yang sukses berarti produknya bagus dong? Satu hal yang perlu Anda ketahui, rahasia kesuksesan merek Jerman di era digital adalah dengan bekerja sama dengan … produsen Jepang.
Ya, beberapa produsen Jerman dapat tetap bersaing dengan memasarkan produk Jepang di bawah merek mereka. Leica D-Lux 4 adalah salah satu contoh. Produk tersebut sebenarnya sama persis dengan Panasonic LX3. Beberapa merek Jerman bahkan tidak lagi memasarkan, hanya menerima royalti dari produsen Asia sehingga produk mereka dapat dipasarkan dengan merek Jerman. Taktik pemasaran seperti ini terbukti efektif, tetapi Anda jangan menilai sebuah kamera lebih baik hanya karena ada merek Jerman tercantum padanya.

6. 15x zoom! 30x zoom!


Yang mereka katakan: “Lensa/kamera ini lebih baik karena zoomnya panjang”
Kenyataannya: Zoom yang panjang memperlambat kinerja lensa dan berpotensi menurunkan kualitas gambar
Akhir-akhir ini ada beberapa lensa ultrazoom yang cukup baik, tetapi lensa tersebut tidak murah. Generasi pertama lensa ultrazoom memiliki banyak masalah, termasuk ketiadaan sistem peredam getar pada beberapa merek. Silahkan saja memilih tipe lensa ini, tetapi yakinkan bahwa lensa tersebut adalah tipe terbaru.
Jika lensa ultrazoom terdapat pada kamera saku, masalahnya bertambah. Selain lambat, ukuran kamera juga membesar. Saat ini sudah ada kamera seukuran batang sabun dengan rentang zoom 14x seperti Canon SX210, karena itu tak perlu memilih kamera yang besar jika ingin zoom yang panjang. Kecuali jika Anda memang ingin kamera SLR-like, yang membawa kita ke poin berikutnya…

7. “Ini sudah mirip SLR”


Yang mereka katakan: “Kamera ini keren lho Pak/Bu, sudah seperti DSLR”
Kenyataannya: Kamera SLR-like masih 2-4 kali lebih lambat dibandingkan DSLR.
DSLR menjadi pilihan jurnalis bukan karena kualitas gambarnya karena untuk kualitas cetak koran, kamera saku masih bisa menyamai DSLR. Sebaliknya, jurnalis membutuhkan kecepatan DSLR. Padahal, kecepatan shot-to-shot, zooming, dan AF kamera SLR-like belum bisa menyamai DSLR sejati.
Selain itu, banyak orang menyukai efek ruang tajam tipis (shallow DOF) yang dapat diberikan DSLR tetapi sulit dilakukan dengan kamera SLR-like. Kamera SLR-like memang masih memiliki rentang zoom terpanjang, sampai 30x. Tetapi selain itu, tidak ada alasan kenapa Anda tak dapat memilih kamera yang lebih kecil atau memilih DSLR sejati.

8. Screen protector & Filter


Yang mereka katakan: “Tidak sekalian anti-gores dan filter lensa, Pak/Bu?”
Kenyataannya: Filter dan anti-gores berpotensi merusak kualitas gambar dan kualitas display
Layar LCD kamera kelas menengah ke atas sudah dilengkapi lapisan yang scratch resistant. Sampai batas tertentu, lapisan ini dapat menahan goresan. Yang lebih penting, kebanyakan layar LCD kamera telah dilengkapi lapisan anti refleksi sehingga layar lebih visible saat digunakan outdoor. Pemasangan anti gores dapat menganulir fungsi lapisan anti refleksi ini.
Filter UV/proteksi juga tak berbeda. Filter ini memang perlu untuk melindungi lensa, tetapi Anda tak boleh asal memilih dengan alasan, “toh hanya untuk proteksi”. Filter UV yang baik tidak memantul dan tidak mengurangi kualitas gambar. Harga filter bukan patokan terhadap kualitasnya, karena filter UV senilai Rp 600 ribu masih dapat memberikan hasil seperti ini. Sebaliknya, pastikan filter yang Anda pilih adalah tipe yang (paling tidak) Multi Coated.

9. Tas kamera untuk penyimpanan


Yang mereka katakan: “Beli tas yang besar saja, kan bisa sekalian untuk menyimpan kamera”
Kenyataannya: Menyimpan kamera dalam tas untuk waktu lama dapat menimbulkan jamur
Tas kamera biasanya kedap air, tetapi bukan berarti tas tersebut tidak lembab dan baik untuk penyimpanan. Busa dalam tas kamera dapat menyerap kelembaban dari udara, dan hal ini dapat mempercepat tumbuhnya jamur. Sebaiknya pilih tas yang nyaman dan cukup kecil untuk dibawa2.
Untuk penyimpanan, akan lebih baik menggunakan container kedap udara seperti Tupperware atau Lock n Lock yang sudah disisipkan silica gel. Solusi ini cukup efektif dan relatif terjangkau dibandingkan membeli dry cabinet. Namun, akan lebih baik lagi jika kamera Anda tidak disimpan, melainkan digunakan setiap hari. Selamat memotret!

Bonus: Poin di mana toko kamera cenderung benar


Yang mereka katakan: “Sekalian ambil card readernya ya, Pak/Bu”
Kenyataan: Transfer foto menggunakan card reader dapat membuat kamera Anda lebih awet
Jika Anda tak memiliki card reader untuk media card yang kamera Anda gunakan, maka sebaiknya Anda miliki segera. Semua kamera memiliki kemampuan untuk mentransfer foto melalui kabel data yang disertakan dalam paket penjualan, tetapi metoda ini berpotensi mengurangi umur kamera. Transfer data melalui kamera berarti mengaktifkan sistem elektronik pada saat tak dibutuhkan, yang berarti pemakaian chip-chip elektronik bertambah. Transfer via kamera juga lebih lambat, sehingga sebaiknya turuti saran penjaga toko dan gunakan card reader.

Read More »
Kamis, November 29, 2012 | 0 komentar

Rahasia Teknik Fotografer Profesional: Exposure Triangle!

Saatnya kita menuju tingkat mahir dalam fotografi bak seorang fotografer profesional. Tulisan ini merupakan lanjutan dari 2 artikel fotografi sebelumnya. Oh ya, tulisan ini saya tujukan buat fotografer pemula loh, jadi musti suwon dulu nih ama fotografer profesional, permisiii… >.<
Pemahaman mengutak-atik exposure triangle adalah “rahasia besar” keahlian seorang fotografer profesional, untuk kamera manual maupun digital (kita fokus pada yang digital aja yahh…)
Exposure adalah jumlah cahaya yang masuk ke dalam medium fotografis kamera (negatif film pada kamera manual dan sensor gambar pada kamera digital) saat pengambilan gambar.
Apabila jumlah cahaya yang masuk ke medium fotografis terlalu banyak, foto menjadi terlalu terang istilahnya overexposure, apabila terlalu sedikit foto menjadi terlalu gelap istilahnya underexposure, dan apabila foto sesuai dengan yang kita inginkan disebut dengan optimal exposure. Exposure Value (EV) adalah angka yang digunakan untuk mengetahui jumlah cahaya yang masuk.
13389865962131149042
1. Underexposure (ajuskoto)

1338986677240132127
2. Optimal Exposure (ajuskoto)

1338986707740428968
3. Overexposure (ajuskoto)
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi sedikit banyaknya jumlah cahaya yang masuk adalah Aperture, Shutter Speed dan ISO. Ketiga-tiganya saling terkait satu sama lain dan tidak dapat dipisah-pisahkan sehingga sering disebut dengan Exposure Triangle.
1338988990711889713
4. Exposure Triangle
Nah, yang paling kerennya lagi nih, kalau dah benar-benar nguasain ketiganya, bisa menciptakan foto-foto tricky yang dahsyat, seperti di bawah ini:
13389910511826461787
5. Sarah Lee

13389911431845546873
6. Sarah Lee

13389890971617343825
7. Irrigation Sprinklers-Bobby Haas

13389877882108833916
8. Slow Shutter Effect-Claude Sadik
Untuk menghasilkan foto-foto keq di atas mah butuh kamera digital yang beneran atuuhhh (baca: DSLR Pro) heheheh..
Slow jazz… kalau pembaca benar-benar minat fotografi, gampang koq memahami ketiga hal ini, saya yakin pembaca akan memahaminya setelah selesai membaca tulisan ini yang merupakan pijakan untuk meloncat lebih tinggi ke angkasa dunia fotografi, trust me it works ^,^
Exposure Triangle
1. Aperture


Aperture adalah lubang/lingkaran di bagian depan kamera yang bekerja sama dengan shutter (diapraghma) untuk mengontrol jumlah cahaya yang masuk pada sensor gambar. Semakin besar diameter lubangnya semakin besar pula cahaya yang masuk. Selain mengatur cahaya yang masuk, aperture juga berfungsi untuk mengatur Depth of Field (DoF) (hadehh apa pulak DoF nie…? sabar yaaa.. ^_^).


Simbol ukuran besar kecilnya aperture adalah f-number atau f-stops, semakin besar f-number berarti semakin kecil diameter lubang (gambar 9).

1338999687432402897
9. www.nikonusa.com


Depth of Field (DoF)


DoF biasanya diterjemahkan dengan ruang tajam. Maaf, coba ambil pensil atau benda kecil yang lain, pegang dan letakkan kira-kira 30 cm di depan mata. Sekali lagi maaf (soalnya saya nyuruh-nyuruh nih >.< ), sekarang belalakkan mata anda menatap pensil tersebut (kira-kira 3 detik), kemudian picingkan mata anda sambil terus menatap benda itu.


Saat anda membelalakkan mata anda “gambar yang terlihat mata” disebut dengan ruang tajam lebar, dan saat anda memicingkan mata anda gambar yang terlihat disebut ruang tajam sempit. Saat anda memicingkan mata pensil akan terlihat lebih tajam atau lebih fokus, ya kan? Nah, itulah yang dimaksud dengan DoF, gampang memahaminya kan? ^_^

1339004336234934105
10. Pengaruh Aperture pada Depth of Field


Kembali ke laptop…ehh… kamera, semakin kecil angka f-stops semakin tajam DoF-nya, dan sebaliknya (gambar10). Background gambar kuda sebelah kiri lebih kabur daripada gambar yang di sebelah kanan. Trik ini sangat baik untuk foto close-up dan makro.


Animasi Aperture Effect


2. Shutter Speed


Shutter speed biasanya diterjemahkan dengan kecepatan rana. Shutter speed berfungsi untuk mengatur berapa lama sensor gambar terekspos cahaya yang masuk dalam satuan detik. Trik freez effect (gambar 5 dan 6) menggunakan shutter speed yang sangat cepat. Gambar bilah helikopter sebelah kiri terlihat kabur pada shutter speed 1/100 detik, sedangkan gambar sebelah kanan bilah terlihat seakan-akan berhenti (Gambar 13).

1339001642908509104
11. Pengaruh Shutter Speed pada Foto


Animasi Shutter Speed


3. ISO


ISO (International Standard Organization) merupakan istilah yang digunakan untuk menentukan sensifitas sensor film pada kamera digital. Istilah ini berasal dari jaman kamera manual untuk menyebutkan sensifitas emulsi kimia film terhadap cahaya (ASA) dimana satuannya adalah ISO dalam angka tertentu, ISO 100, 200, 400, 800, 1600, 3200 hingga 6400, tidak tertutup kemungkinan akan bertambah lagi. Namun istilah ISO masih digunakan hingga di era digital.


Biasanya pengaturan nilai ISO digunakan untuk mengoptimalkan exsposure, apabila settingan aperture dan shutter speed belum memuaskan. Semakin tinggi nilai ISO, semakin tinggi pula sensifitasnya terhadap cahaya. Sayangnya semakin tinggi nilainya efek berpasir (grainy) pada gambar semakin jelas (Gambar 12). Settingan ISO penting dalam fotografi malam, atau objek yang berada di ruangan/lingkungan yang remang-remang.
1339005344971682843
12. Efek Berpasir pada Foto
Ok deh… cara cepat untuk benar-benar memahami ketiganya adalah praktek langsung. Ketahui tombol-tombol pengatur ketiganya. Catat masing-masing angka saat pengambilan foto pertama, ubah angka salah satu faktor misalnya angka ISO, ambil foto, ubah lagi, ambil lagi, demikian seterusnya untuk faktor aperture dan shutter speed. Jangan lupa memberikan nama khusus pada tiap-tiap foto sesuai dengan settingan angka, ntar malah kebingungan heheheh.
Sebenarnya catatan settingan telah ada pada file-file tersebut yang bisa terlihat pada LCD kamera atau komputer menggunakan software ACD See atau Photoshop. Kalau memang tau caranya, berarti gak perlu dicatet dong angka-angkanya saat pengambilan foto >.<
Kemudian amati angka-angka ketiga faktor tersebut dan perubahan-perubahan yang terjadi pada hasil foto. Dengan demikian akan mudah memahami pengaruh masing-masing faktor.
Sumber Gambar 4, 5 dan 6, 7, 8, 9 dan 10, 11, 12
Catatan Pribadi:
Sebenarnya contoh-contoh gambar/foto di atas tidaklah terlalu sulit membuatnya, namun berhubungan saya belum punya DLSR hiks..hiks T_T
yahhh terpaksa deh minjam gambar dari website-website tersebut hehehe…

Read More »
Kamis, November 29, 2012 | 0 komentar

Teknik Fotografi dan Hasil Bagus

 


Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)


Teknik untuk mendapatkan hasil foto yang bagus itu mudah koq, yang agak susah tu ... hmmphhh... di akhir tulisan aja yaa pembacaa... hehehe. Trus, jenis kamera bukan faktor utama yang menentukan bagus atau tidaknya suatu foto.

Ok deh dibawah ini pengetahuan dasar fotografi (inti-intinya aja ya, kalau dijabarkan wahhh bisa jadi buku deh heheheh). Fotografi manual/film keqnya dah bisa dibilang nyaris punah, hanya orang-orang tertentu yang masih menggunakannya atau seorang kolektor mania. Fleksibilitas, murah dan hematya fotografi digital telah menenggelamkan fotografi manual.

Langsung aje yee... ^_^

Jenis Kamera Digital


1. Point and Shoot (PAS)
Penggunaannya mudah, ukurannya relatif kecil (pocket/kompak), lensa tidak bisa diganti-ganti, harganya relatif murah. Misalnya kamera mobile phone dan kamera digital biasa.
2. Prosumer

Kamera pertengahan, ukuran dan harganya antara PAS & DSLR, kamera PAS yang memiliki beberapa kontrol manual, lensa tidak bisa diganti-ganti.
3. Digital Single Lens Reflect (DSLR)
Full manual control & otomatis, lensa fleksibel dapat diganti-ganti sesuai kebutuhan, ukurannya relatif besar, harganya relatif mahal.


Tahapan Foto Digital



1. Image Acquisition (Input)

Proses pengambilan foto (hmmm… disinilah perlunya teknik pengambilan foto).
2. Image Processing

Pengolahan foto dengan software ex. Adobe Kotoshop (T_T), ACD See, Corel Photo Paint (pokok é banyak deh…), disini tahapan untuk mengatur warna, pencahayaan lanjutan, ketajaman (sharpness), dan komposisi lanjutan (cropping)
3. Print Out (Output)

Karna penyesuaian (kalibrasi) warna monitor dengan warna print out… jadinya tahapan ini agak susah.

Klasifikasi Fotografi


Sebenarnya pengklasifikasian fotografi ini sulit dan bersifat subjektif, namun secara umum dapat dibagai atas 5 bidang yaitu:



  1. Lokasi dan Jenis Objek: Urban, Travel, Nature, Wild Life, Under Water Photography
  2. Aktivitas Manusia: Wedding, Event, Sport Photography
  3. Ilmu Pengetahuan (Science): Forensic, Science, Medical Photography
  4. Konsep: Art, Documentary, Advertising Photography
  5. Teknik/Peralatan Fotografi: Wide, Macro, Aerial Photography


Tips Teknik Mendapatkan Hasil Foto yang Bagus

Tips paling utama adalah sering mengamati foto-foto yang bagus. Semakin sering kita mengamati foto-foto yang bagus, lama-lama tanpa disadari kita akan memiliki sense foto yang bagus
. Foto-foto yang sangat berkualitas, baik dari segi seni atau pemberitaan, diantaranya bisa dilihat lihat di National Geographic dan Kompas Image.

Trus, mengenai penggunaan alat nge jepret, kamera jenis apapun dari yang murahan hingga yang mahalan hihih... kalau memang benar-benar minat fotografi pasti gak kesulitan deh, pake aja tekni trial and error, sambil baca-baca juga buku manualnya.

Trusnya lagi, pahami benar Point of Interest (POI), ketahui benar objek yang mana yang mesti ditonjolkan, sehingga bila orang melihat foto itu, dia akan otomatis melihat POI tersebut.

Adapun faktor-faktor yang menentukan kualitas hasil foto menurut Rahmad Agus Koto (2012) adalah (zzzzz wkwkwkk emangnya jurnal apa...hihi..) adalah:


  1. Kondisi Objek
  2. Pencahayaan (Exposure)
  3. Warna
  4. Fokus/Ketajaman (Sharpness)
  5. Komposisi
  6. Sudut Pandang (Viewing Angel)

Kondisi Objek

Bisa dikatakan kondisi objek memiliki peranan penting dalam suatu foto yang bagus. Apakah ekspresi dari objek atau objek yang merupakan peristiwa yang unik atau jarang terjadi.




Gigi Pertama Aisyah





Jarang Sederhana

Pencahayaan (Exposure)


Masalah cahaya ni, ya tergantung tujuan foto diambil sih, bisa saja foto yang agak gelap atau terlalu terang malah bagus. Tapi secara umum pencahayaan yang bagus itu harus pas ^_^




In The Dark


Maaf, ada yang tahu ini bunga apa? ^_^


Warna

Pengetahuan mengenai warna cukup penting juga dalam dunia fotografi loh. Seorang graphic designer, atau fashion designer paham benar memainkan warna. Colourlovers, di situs ini bisa belajar dan memahami warna dengan baik.



Aisyah & Faqih





Pasangan Sejati


Ada yang tau ini serangga apa? (koq banyak gak taunya seeehh...)

Fokus/Ketajaman (Sharpness)


Paling ngeselin deh liat foto yang kabur (bukan melarikan diri loh wkwkwwk), ya kan? Penggunaan manual fokus butuh latihan yang sering, untuk pemula make autofokus aja dulu.



Microstoma floccosa


Dragonfly

Komposisi


Prinsip dasarnya adalah seimbang. Perhatikan orientasi yang cocok, portrait atau landscape, biasanya panorama atau objek yang jauh cocok menggunakan landscape, sedangkan objek yang vertikal cocok menggunakan portrait. Teknik komposisi lain diantaranya adalah Framing, Geometric dan Freedom
Prinsip Rule of Third sangat membantu untuk mendapatkan komposisi yang bagus. Dimana POI atau objek utama diposisikan di bahagian sepertiga bidang foto.


Taman Buaya Asam sikumbang, Medan Sumut


Gabungan Teknik Portrait, Geometrik, dan Rule of Third. Foto ini diambil menggunakan kamera hp harga 200 ribuan loh ^_^


Sudut Pandang (Viewing Angel)

Nah, yang ini sangat dipengaruhi oleh sense seni si fotografer, dari sudut mana pengambilan foto yang menarik dan "menjelaskan" objek. Kalau mahir memainkan viewing angel dan komposisi, ntar bisa jadi Director of Photography loh.


Read More »
Kamis, November 29, 2012 | 0 komentar

Jalanan Paling Ekstrem di Dunia

Ada di Bolivia, jalan Yungas Utara juga dikenal sebagai Jalan Kematian (death-road) dan dianggap sebagai jalan paling berbahaya di dunia. Jalan ini membentang sekitar 40 mil di sepanjang tebing gunung dan jurang. Lebarnya hanya sekitar 10 kaki.









Sepertinya kita harus lebih bersyukur menikmati jalanan yang seperti dibawah ini.

Read More »
Kamis, November 29, 2012 | 0 komentar